Minggu, 10 April 2011

Artikel ( Manusia )

Manusia

(Oleh M Saifuddin)

D

alam Alquran banyak disebutkan bahwa manusia berasal dari tanah. Dari tanah ia diciptakan, kemudian dikembalikan, kemudian dikeluarkan untuk kehidupan baru (QS Thaha:55). Tanah adalah ibarat dari ketiadaan. Ketladaan jati diri, ketladaan tanggungjawab. la hanyalah bahan untuk sebuah bentuk, yang sejak saat itu ia menjadi punya rasa bahkan tanggung jawab.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa kelak di yaumil hisab semua makhtuk akan dimintai pertanggungjawaban terhadap semua amalnya di dunia, termasuk hewan. Ketika hewan dihisab dengan adil oleh Allah SWT, Dia berfirman pada hewan itu, "Jadilah engkau tanah." Demi melihat hal itu maka orang kafir berkata, "Seandainya aku menjadi tanah, sehingga tidak disiksa."

Dan tanah, Allah SWT memprosesnya menjadi sosok manusia yang diberi aka1, nafsu, dan perasaan. Akal, nafsu, dan perasaan inilah yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lain yang diciptakan Allah SWT. Namun, keberadaan ketiga unsur tersebut dalam diri manusia sangatlah fluktuatif.

Adakalanya manusia kehilangan ketiga unsur tersebut, sehing­ga ia hanyalah seonggok daging yang mungkin lebih rendah har­ganya dibandingkan dengan daging sapi yang dijual di pasaran. Kadang nafsu yang 1ebih mendominasi daging ini, sehingga ia , tidak ubahnya seperti hewan bahkan lebih hina lagi, la mempu­nyai hati tapi tidak mencerna, mempunyai mata tapi tidak melihat, mempunyai telinga tapi tidak mendengar ajaran Allah SWT. (QS Ala'raf:179)

Ketika ia menggunakan ketiga unsur tadi secara proporsional, maka ia menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. la shalat tapi juga tidur. puasa tapi juga makan minum, zakat tapi juga berhias diri. Ketika ia memberikan porsi lebih dalam olah rasa. kejernihan hati, dan ketinggian iman, maka ia akan menjadi manusia yang melampaui manusia biasa. la tidak memasukkan harta dalam hatinya. Hatinya penuh dengan harapan ridha Ilahi dan Rasul-Nya. Dialah orang yang disaksikan ketulusan imannya oleh Allah SWT (QS A(hasyr:8). la lebih mementingkan kebaha giaan arang lain daripada dirinya sendiri. Dialah orang yang dijamin keberuntungannya.

Ketika ia tidak bertutur kecuali yang benar (QS Annajm;3). la memandang dengan mata kebenaran. Mendengar dengan telinga yang memaknai kebenaran. Shalat, ibadah, hidup, dan matt hanya diserahkan kepada Zat Yang Mahabenar, Maka, ia menjadi lebih mulia daripada malaikat, sang makhluk yang tidak pernah berbuat maksiat.

Kendati, tercipta dari tanah, manusia yang memberdayakan ketiga unsur dasarnya itu akan selalu hidup dan mendapat ca­haya Tuhannya. A1 Jurjani menyebut manusia yang seperti ini dengan sebutan insar karnil (manusia yang sempurna). Manusia yang seperti ini, akalnya selalu dijiwai ummul kitab, dan jiwanya tidak tersentuh kehinaan serta najis.

Manusia memang makhluk yang unik. la bisa lebih rendah dari binatang, lebih jahat dari setan, tapi bisa.lebih mulia dari malaikat. Manusia itu sendirilah yang bisa memilih status kehi­dupannya di hadapan Allah SWT.

Artikel (Membagi Waktu)

Membagi Waktu

(Oleh: Dr Achmad Satori Ismail)

W

aktu itu berlalu sangat cepat dan tidak akan kembali. la adalah harta milik manusia yang paling mahal. Waktu merupakan saat dan kesempatan untuk bekerja serta merupakan modal utama bagi manusia untuk beramal. Waktu bukanlah semahal emas atau uang seperti dikatakan orang Barat. la lebih mahal semua itu.

Waktu adalah kehidupan kita sendiri. Menyia-nyiakan waktu sama dengan membunuh diri secara perlahan. Bukankah kita ini hanyalah terdiri atas himpunan waktu. Bila waktunya habis, kita akan mati. Hasan AI Basri pernah mengatakan, "Anda hanyalah himpunan hari-hari yang terbilang. Bila sebagian hari telah pergi, maka ia akan lenyap semuanya."

Di antara sebab kekalahan dan kemunduran umat Islam saat ini adalah kurangnya menghargai waktu. Mengapa umat Islam ter­dahulu menggapai kemenangan di segala bidang kehidupan du­niawi? Mereka.sangat menjunjung tinggi nilai waktu. Mereka me­ngetahui bahwa menghargai waktu bagi Muslim merupakan kewa­jiban yang didasari akidah bahwa semua umur kita akan dihisab.

Agar kita tidak celaka saat dihisab, kita harus membagi waktu sesuai arahan Rasulullah SAW. Dalam bab AI Muraqabah dan AI Muhasabah kitab Kanzul Umal disebutkan, "Orang yang berakal hendaknya membagi waktunya menjadi empat. Waktu untuk bermunajat kepada Rabb-nya, waktu untuk melakukan muhasabah (introspeksi), waktu untuk merenungi ciptaan Allah SWT, serta waktu untuk keperluan makan dan minum."

Berdasar hadis tersebut, setiap Muslim yang ingin menyiapkan diri menghadapi hisab, wajib membagi waktunya dalam empat hal. Pertama, waktu untuk bermunajat. Saat munajat, kita harus senantiasa meneliti kembali apakah yang kita lakukan ikhlas karena Allah SWT atau tidak.

Kedua, waktu untuk muhasabah. Setiap selesai berbuat se­suatu atau minimal saat menjelang tidur, sebaiknya kita melaku­kan muhasabah. Apakah kita sudah melaksanakan semua kewa­jiban? Apakah pelaksanaan kewajiban itu sudah sempurna sesuai syarat dan rukunnya? Apakah semua pekerjaan dan amal ibadah kita dilakukan dengan ikhlas?

Ketiga, waktu untuk merenungi semua ciptaan Allah SWT. Renungan ini sangat diperlukan untuk meningkatkan keimanan kita. Dengan memikirkan dan merenungi diri dan semua ciptaan Allah SWT, kita akan lebih mengetahui kekuasaan Allah SWT dan keagungan-Nya.

Keempat, waktu untuk memenuhi kebutuhan duniawi seperti untuk mencari nafkah, makan, minum, dan mengurusi keluarga. Kita adalah makhluk yang terdiri atas unsur materi dan rohani dengan komposisi yang seimbang. Unsur rohani memerlukan makanan dari apa yang diturunkan Allah SWT berupa agama-Nya. Sedangkan unsur materi berasal dari tanah, air, juga udara, maka ia memerlukan makanan dan minuman yang semuanya berasal dari saripati tanah.

Muslim yang hakiki hendaknya membagi waktunya secara pro­porsional untuk empat hal tersebut agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Kita tidak boleh tenggelam dalam ibadah mahdhah saja dengan mengesampingkan yang lainnya.


Artikel (Kawan dan Lawan)

Kawan dan Lawan

(Oleh: W Lilik )

W

ahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai kawan / penolong kalian dengan penuh kasih sa­yang, sementara mereka sendiri telah mengingkari kebenaran yang telah datang kepada kalian. (QS AI Mumtahanah [60] : 1) Imam AI Qurthubi mengatakan bahwa ayat ini menjadi dasar tidak bolehnya menjadikan musuh sebagai teman. Kita akan dapat melaksanakan seruan ayat ini dengan baik kalau kita dapat menentukan dengan baik siapa kawan dan siapa lawan.

Kita mungkin mengatakan kawan adalah siapa saja yang ber­sikap baik kepada kita. Sedangkan lawan adalah siapa saja yang memusuhi kita. Perkataan seperti ini tidak sepenuhnya tepat. Se­bagai seorang Muslim, selayaknya kita merujuk kepada Alquran dan sunah untuk menentukan siapa kawan dan siapa lawan serta bagaimana seharusnya kita bersikap. Allah SWT dalam Surat An­Nisa ayat 101 telah menegaskan kepada kita siapa musuh kita. Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan, "Sesungguhnya orang­ orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagi kalian."

Jadi, jelaslah bahwa orang kafir itulah sebenarnya musuh kita. Apalagi jika mereka secara terang-terangan memusuhi kita bahkan memerangi kita, kaum Muslimin. Kita tidak boleh berte­man dengan mereka atau bahkan memberi bantuan walau hanya berupa dukungan moral. Begitulah seharusnya sikap kita kepada orang-orang kafir.

Larangan Allah itu dapat kita temukan dalam banyak ayat. Firman-Nya, 'Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang Mukmin."(QS An Nisaa' :28). Wali yang dimaksud di sini juga bisa berarti pemimpin. Dengan demikian, ayat ini juga melarang kaum Mukmin untuk menjadikan orang kafir sebagai pemimpinnya.

Ada juga ayat yang menyebutkan, "Wahai orang yang beriman janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman dekat. Sebagian mereka adalah penolong sebagian yang lain, barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka seba­gai teman dekat maka sesungguhnya orang itu termasuk golong­an mereka." (QS AI Maidah :51). Memihak atau bahkan memban­tu orang-orang kafir, berarti juga menjadi bagian dari mereka.

Lalu siapa kawan kita? Sangat jelas bahwa kaum Musliminlah kawan kita bahkan saudara kita. "Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara." (QS AI Hujurat : 10). Muslim yang berada di belahan dunia manapun adalah juga saudara bagi Muslim di tempat lain. Karena itulah, semestinya seluruh umat Islam ikut menderita saat kaum Muslimin di Afghanistan, Palestina, Irak, juga tempat lain dianiaya. Ayat ini juga mewa­jibkan umat Islam untuk terus menguatkan rasa solidaritasnya.

Sesama Muslim itu bagaikan satu tubuh. Saat ada bagian tubuh yang terluka, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit­nya. Karena itulah, penderitaan umat Islam di tempat laini se­mestinya juga menjadi penderitaan kita sesama Muslim. Ja­ngan sekali-kali menjadi pengkhianat yang mengkhianati Allah, Rasul, dan kaum Muslimin.


Artikel (Belajar Tiada Henti)

Belajar tiada Henti

(Oleh : Dr H Arief Rachman)

S

uatu proses yang harus dan dituntut tetap ada dalam diri setiap manusia adalah belajar. Dengan belajar, manusia akan menjadi lebih baik, tidak terjebak pada kesalahan/ kegagalan yang sama, cerdas, bijaksana, adil, taat kepada Allah SWT, juga mendapat sejuta kebaikan lain.

Sebagai suatu proses tanpa henti, belajar seharusnya dilakukan setiap waktu, di setiap tempat dan kesempatan. Sedangkan formalitasnya dilakukan di sekolah, sebagai rangkaian kegiatan belajar yang dilembagakan dalam rangka membentuk konsep manusia seutuhnya.

Ironisnya, belajar, meskipun merupakan bagian yang tidak bisa ditawar-tawar dalam kehidupan manusia, seringkali menjadi kegiatan yang tidak menarik perhatian. Rasa malas dan rendahnya motivasi menjadi fenomena umum. Implikasinya, prestasi siswa pun menurun.

Tak berhenti di situ, keengganan serta rasa malas itu juga dapat menjalar pada sikap-sikap negatif lainnya, misalnya tawuran, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, dan seba­gainya. Hal ini terjadi karena anak yang tidak tertarik belajar, Itu mengalihkpn rasa ketertarikannya pada hal lain yang lebih menan­tang dan menarik bagi mereka.

Kalau sudah begini, guru dan orang tua baru tersentak dan segera mencari sotusi. Berbagai teori, kiat, maupun nasihat diingat kembali. Tak jarang usaha-usaha yang mereka lakukan itu gagal atau berhasil sementara, karena mengubah perilaku tak semudah membalik telapak tangan.

Berbagai teori yang diperuntukkan bagi peningkatan motivasi dan semangat belajar tak lagi kuasa menunjukkan kekuatannya, karena hanya dimunculkan, didiskusikan, dan diharapkan akan diterapkan. Penerapan inilah yang sulit dibahasakan pada praktik belajar sehari-hari.

Kemalasan belajar sebenarnya muncul dari kata belajar itu sen­dlri. Dalam masyarakat kita, makna belajar tereduksi menjadi hanya berupa aktivitas di dalam kelas, harus ada buku, guru, dan siswa, serta ada target-target yang harus dikuasai. Dengan pemahaman ini, maka kita belajar menjadi sangat membosankan. Yang dimunculkan bukan rnotivasi internal, tapi malah motivasi eksternal.

Pemahaman Islam mengenai belajar, sangatlah berorientasi pada motivasi internal. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa manusia ditekankan untuk menuntut ilmu dari buaian sampai liang lahat. Pernahaman ini kemudian dijadikan konsep untuk menggiat­kan belajar seumur hidup (long life education). Surat AI Mujadilah [58J ayat 11 mengungkapkan, "Allah akan meninggikan orang­orang yang beriman dan berilmu sebanyak beberapa derajat."

Mengapa seorang Muslim mau belajar seumur hidup? Motivasi belajar dalam Islam bukanlah untuk mencari pekejaan. Dalam Islam, belajar itu ibadah atau sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Karena bagian dari ibadah, maka umat Islam harus melakukannya sepanjang hidup.

Jika motivasi belajar adalah untuk mendapatkan pekerjaan, maka pembodohan terhadap pemahaman belajar sudah sangat membahayakan. Orang yang sudah mendapatkan pekerjaan sesuai dengan tujuannya, tidak mau lagi belajar.

Artikel (Evaluasi Diri)

Evaluasi Diri

(Oleh : Firdaus MA)

S

ebentar lagi pergantian tahun akan tiba. Sebagai Muslim sudah seharusnya mengevaluasi berbagai aktivitas yang telah dilakukan,terutama terkait dengan pengabdian kepada Allah. Ini penting untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan diri sehingga dapat segera diperbaiki. Terhadap hal-hal baik yang telah dilakukan dapat ditingkatkan pada masa akan datang.

Melakukan evaluasi untuk peningkatan kualitas diri dan persiapan bekal masa depan sejalan firman Allah: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (QS. 59: 18).

Untuk mengevaluasi diri ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, mu­hasabah. Minimal melakukan perhitungan secara umum terhadap berbagai aktivitas selama ini. Sejumlah pertanyaan dapat di­ajukan, seperti apakah umur, harta, ke­sempatan dan waktu yang terpakai sudah maksimal dimanfaatkan untuk pengabdian kepada Allah. Ini penting diperhatikan mengingat kesempatan hidup semakin ter­batas dan setiap orang semakin dekat ke­pada kematian.

Kedua. muraqabah (pengawasan). Peng­awasan dilakukan dengan mengamati sisi lahiriah dan batiniah ibadah dan kebaikan yang telah dilaksanakan. Dan sisi lahiriah, perlu dipertanyakan apakah amal dan iba­dah yang telah dilakukan sesuai dengan petunjuk Alquran dan hadis- Dari sisi ba­tiniah, perlu dipertanyakan tentang keikh­lasan dalam melaksanakan berbagai ibadah dan kebaikan lain. Apakah pelaksanaan ibadah tersebut telah didasarkan pada upaya menjalankan perintah dan mengharapkan keridhoan Allah atau masih bercampur dengan riya’.

Ketiga mu’aqabah (sanksi). Memberikan sanksi pada diri terhadap setiap pelang­garan dan perbuatan dosa perlu dilakukan untuk mengingat azab Allah yang dahsyat sekaligus peringatan agar tidak mengulangi dosa itu. Sanksi itu mesti sesuatu yang bermanfaat dan menjadi investasi pahala di sisi Allah. Hal seperti ini pernah menjadi tradisi para sahabat Nabi dan orang-orang saleh sesudah mereka. Ketika mereka berbuat dosa, di samping bertaubat juga memberi sanksi pada diri dengan banyak beribadah dan berbuat baik kepada se­sama. Ini sesuai dengan hadis Nabi: Iringi­lah dosa yang kamu lakukan dengan per­buatan baik, karena perbuatan baik dapat menghapus dosa tersebut. (HR. Turmidzi).

Keempat, muatabah alannafsi (meng­kritik diri). Kritik terhadap diri dilakukan de­ngan berpedoman Alquran dan hadis. Mi­salnya, kenapa hari ini tidak mampu ber­sikap amanah, jujur, disiplin, mau berse­dekah,membiasakan membaca Alquran, sementara orang lain mampu melakukan. Dengan kritikan seperti ini, seseorang akan menyadari apa yag perlu diperbaiki dan di­tingkatkan pada masa mendatang, sekali­gus mendorong diri untuk mencontoh orang yang lebih baik dan taat darinya.

Dengan melakukan evaluasi diri melalui beberapa langkah di atas, insya Allah pe­ningkatan kualitas diri pada tahun akan datang dapat tercapai.

 
Copyright © 2010 Face. All rights reserved.
Blogger Template by