Kamis, 18 Februari 2010

pentingnya kejujuran



Pentingnya Kejujuran

(Oleh : Dikdik Dahlan)

Pada awal kera­sulannya, Mu­hammad SAW pernah bertanya ke­pada kaum Quraisy, “Bagaimana pen­dapatmu sekalian kalau kukatakan bahwa pada per­mukaan bukit ini ada pasukan berkuda ? Percayakah kalian ?” Jawab mereka, “Ya, engkau tidak pernah disangsikan. Belum pernah kami melihat kau berdus­ta.” (Muhammad Husain Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, hlm 121-122). Jawaban orang Quraisy itu disampaikan secara spontan karena yang bertanya adalah Muhammad bin Abdullah. Sosok yang selama ini mereka gelari dengan AI Amin, orang yang dipercaya.

Ada fenomena menarik dari penganuge­rahan gelar A1 Amin ini. Pertama, gelar AI Amin lahir dari mulut orang-orang Quraisy. Padahal, sejarah mencatat bahwa per­adaban Quraisy saat itu dan jazirah Arab umumnya berada di tengah peradaban Jahiliyyah. Sebuah peradaban yang sudah tidak bisa lagi membedakan antara yang hak dan bathil, antara yang halal dan ha­ram. Sebuah peradaban yang sudah sangat rusak dan bobrok.

Namun, kejujuran Muhammad bin Abdullah tidak luntur oleh peradaban di sekelilingnya. Justru orang-orang yang hidup di peradaban Jahiliyah itu (Quraisy) secara sukarela memberikan penghargaan kepada kejujuran Muhammad dengan menggelarinya Al Amin. Hikmah pertama dari gelar ini, seperti­nya Allah ingin memberikan pelajaran bah­wa kejujuran adalah sebilah mata uang yang tidak saja akan senantiasa berlaku. Tetapi, juga akan selalu berharga di mana pun dan kapan pun, sekali­pun di tengah peradaban yang carut-marut.

Kedua, gelar AI Amin ini telah diberikan oleh orang-orang Quraisy jauh sebelum rnasa kerasul­annya, kira-kira pada usia 15-20 tahun. Penganugerahan gelar AI Amin yang sudah melekat jauh sebelum Muhammad diangkat sebagai Rasul ini mengandung pelajaran bahwa kejujuran adalah modal awal sekaligus modal sebaik-baiknya untuk menempuh kehidupan. Baik dalam kedudukan Muham­mad selaku hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi, tidak terkecuali dalam menjalankan amanah kepemimpinan di hadapan sesama umat manusia.

Lawan dari kejujuran adalah perilaku dus­ta. Mengenai hal ini Rasulullah berpesan, “Hendaklah kamu sekalian menjaga diri dari berperilaku dusta. Sesungguhnya dusta akan selalu membawa kepada kejahatan, dan sesungguhnya setiap kejahatan akan menyeret pelakunya ke dalam neraka.”

Dusta berpotensi membawa pelakunya untuk berbuatjahat. Seorang pencuri, ke­tika ia mencuri pada dasarnya ia sedang tidak jujur kepada dirinya sendiri, karena barang yang ia ambil bukan miliknya.

Orang yang dengan sengaja meninggalkan shalat, zakat, dan berbagai syariat lainnya, pada dasarnya orang itu sedang tidak jujur pada dirinya sendiri. la telah mengingkari jati dirinya sebagai seorang khalifah mau­pun hamba Allah. Alhasil, orang mukmin sudah seharus­nyalah menegakkan kejujuran, di mana pun dan kapan pun. Jujur pada diri sendiri dan orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2010 Face. All rights reserved.
Blogger Template by